Opini  

Gorontalo Darurat Sianida, Hampir 6 Ton Diselundupkan, Masihkah Air Baku Kita Aman?

Gorontalo Darurat Sianida Hampir 6 Ton Diselundupkan, Masihkah Air Baku Kita Aman
IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia

READ.ID – Dua kali dalam satu bulan. Bukan satu kejadian kebetulan, bukan pula sekadar insiden kecil di pinggir pantai. Dua operasi penangkapan muatan sianida dalam jarak waktu sepuluh hari di pesisir Gorontalo Utara adalah sinyal keras bahwa provinsi ini sedang berada di tengah ancaman nyata.

Ancaman yang tidak hanya menyentuh ranah hukum, tetapi juga mengancam keselamatan lingkungan hidup dan sumber air baku jutaan jiwa di wilayah ini.

KRONOLOGI PENANGKAPAN

Rentetan peristiwa ini bermula pada Senin, 13 April 2026, ketika seorang kepala desa berinisial IG dari Desa Motihelumo, Kecamatan Sumalata Timur, Kabupaten Gorontalo Utara, melaporkan temuan kapal jenis fiber panboat bernama SAR 01.824 yang terdampar di wilayahnya.

Kapal itu mengalami kerusakan mesin, dan seluruh awak kapalnya melarikan diri, meninggalkan muatan berupa 39 karung berlabel “Atlas Super Gro 16-20-0 Inorganic Fertilizer” — kemasan pupuk yang ternyata menyimpan isi yang jauh lebih berbahaya, butiran putih seperti batu yang diduga mengandung sianida, masing-masing karung berbobot sekitar 50 kilogram.

Direktur Polairud , Kombes Pol Devy Firmansyah, menjelaskan bagaimana insiden itu bermula dari kerusakan teknis yang justru membongkar muatan berbahaya tersebut.

“Muatan diduga CN/Sianida dan ABK dari kapal tersebut melarikan diri dan meninggalkan kapal yang terdampar. Atas peristiwa tersebut, kepala desa menghubungi personel Dit Pol Airud Polda Gorontalo, kemudian barang bukti tersebut diserahkan kepada petugas untuk digunakan dalam proses penyelidikan dan penyidikan perkara jika ditemukan ada peristiwa pidana dalam perkara tersebut,” ujar Kombes Pol Devy.

Belum tuntas penyelidikan kasus pertama, pada Kamis 23 April 2026 sekitar pukul 08.30 WITA, Unit Penegakan Hukum (Gakkum) Dit Polairud Polda Gorontalo kembali menangkap sebuah kapal nelayan asing di pesisir Pantai Desa Tolitehuyu, Kecamatan Monano, Kabupaten Gorontalo Utara.

Kali ini muatannya jauh lebih masif, 77 karung bahan kimia diduga sianida dengan total berat diperkirakan mencapai 4 ton. Turut diamankan 29 galon BBM jenis Pertamax, tiga unit kendaraan satu mobil box Daihatsu Grand Max dan dua Suzuki APV  serta empat orang awak kapal berkewarganegaraan Filipina.

BERHASIL DIAMANKAN POLDA GORONTALO

Apresiasi setinggi-tingginya patut diberikan kepada Dit Polairud Polda Gorontalo. Dua operasi berhasil dilaksanakan dalam rentang waktu yang sangat singkat, mengamankan total lebih dari 115 karung atau setara sekitar 5,75 ton bahan kimia berbahaya sebelum sempat menyebar ke tangan yang salah.

Yang tak kalah penting adalah kecepatan respons aparat dalam menindaklanjuti laporan masyarakat. Kepala Desa Motihelumo menjadi informasi yang patut diapresiasi yang tersus waspada, dan aparat bergerak cepat. Ini adalah contoh nyata sinergi antara masyarakat dan kepolisian yang patut dijadikan model.

Kombes Pol Devy menegaskan bahwa penyelidikan tidak berhenti pada barang bukti semata, melainkan menelusuri hingga ke pemilik sesungguhnya.

“Diperoleh keterangan dari saksi-saksi yang pada intinya menerangkan bahwa muatan kapal yang dikemas dalam karung plastik warna putih diakui kepemilikannya oleh inisial LP, dan sebagaimana keterangan saksi di lokasi, yang bersangkutan datang dan mengambil barang tersebut serta memindahkannya ke dalam mobil pick up warna hitam,” ungkap Kombes Pol Devy saat diwawancarai.

Penetapan pasal tindak pidana di bidang kepabeanan sebagaimana diatur dalam Pasal 102 huruf a Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 dengan ancaman hukuman hingga 10 tahun penjara dan denda maksimal lima miliar rupiah juga menunjukkan keseriusan aparat dalam menangani kasus ini.

Lebih jauh, Kombes Pol Devy menyampaikan bahwa pihaknya tengah mendalami keterlibatan pihak lain yang belum tersentuh hukum.

“Subdit Gakkum Dit Polairud Polda Gorontalo mendalami kebenaran SP selaku pihak penting untuk dilakukan permintaan keterangan perihal mengetahui kepemilikan 39 karung sianida yang diangkut dengan menggunakan kapal tersebut,” tuturnya.

PENYELUNDUPAN LINTAS NEGARA

Fakta yang paling mengkhawatirkan dari penangkapan 23 April adalah identitas empat awak kapal yang diamankan, semuanya warga negara Filipina, berdomisili di General Santos, dan menggunakan kapal nelayan asing sebagai moda transportasi.

Mereka masing-masing berinisial AM (61), KS (22), RP (45), dan DC (39). Ini bukan sekadar pelanggaran kepabeanan biasa. Ini adalah indikasi kuat adanya jaringan penyelundupan lintas negara yang terorganisir, menggunakan jalur laut Gorontalo sebagai koridor masuk ke wilayah Indonesia.

Kemasan yang digunakan pun dirancang untuk menyesatkan,  berlabel pupuk anorganik dengan nama dagang yang terdengar sah dan teknis. Tanpa kewaspadaan aparat dan laporan masyarakat, muatan ini sangat mungkin lolos dan tersebar tanpa diketahui.

Pertanyaan yang kini harus dijawab adalah, sudah berapa kali jalur ini digunakan sebelumnya, dan berapa banyak yang tidak pernah tertangkap?

DIGUNAKAN UNTUK TAMBANG ?

Informasi yang beredar menyebutkan bahwa sianida tersebut rencananya akan dibawa ke sejumlah kawasan tambang emas di Gorontalo.

Ini bukan hal yang mengejutkan secara teknis, natrium sianida memang digunakan secara luas dalam proses ekstraksi emas melalui metode sianidasi, yakni teknik melarutkan partikel emas dari bijih menggunakan larutan sianida.

Masalahnya, penggunaan sianida dalam tambang emas, terutama tambang rakyat atau ilegal yang tidak memiliki sistem pengelolaan limbah yang memadai adalah bom waktu bagi lingkungan.

Sianida yang tidak dikelola dengan benar akan meresap ke tanah, mengalir ke sungai, dan pada akhirnya mencemari sumber air baku yang digunakan masyarakat luas. Di sinilah lingkaran bahaya itu menjadi nyata, dari kapal gelap di pesisir, ke tambang di pegunungan, lalu ke sungai yang mengalir ke dapur dan gelas minum warga.

BAHAYA AIR SUNGAI YANG TERCEMAR SIANIDA

Sianida bukan racun biasa. Dalam konsentrasi rendah sekalipun, paparan sianida secara terus-menerus melalui air minum dapat menyebabkan kerusakan saraf, gangguan fungsi tiroid, hingga kerusakan organ vital. Pada konsentrasi tinggi, dampaknya bisa akut dan mematikan dalam hitungan menit.

Gorontalo memiliki beberapa sungai besar yang menjadi sumber air baku, di antaranya Sungai Bone dan Sungai Bolango yang mengalir melalui wilayah tambang di Bone Bolango menuju muara. Juga di Kabupaten Pohuwato dan Boalemo.

Jika sianida dari aktivitas tambang ilegal masuk ke aliran sungai ini, baik melalui kebocoran kolam limbah, pembuangan sembarangan, maupun rembesan tanah, maka instalasi pengolahan air bersih yang ada belum tentu mampu menyaringnya secara sempurna dengan teknologi konvensional.

Anak-anak, ibu hamil, dan lansia adalah kelompok yang paling rentan. Dan yang paling mengerikan dari ancaman ini adalah sifatnya yang tidak terlihat, tidak berbau dalam konsentrasi rendah, dan baru dirasakan dampaknya setelah paparan berlangsung lama. Gorontalo tidak boleh menunggu hingga ada korban sebelum bertindak.

SOLUSI LAIN SELAIN SIANIDA

Salah satu alternatif paling menjanjikan yang kini mendapat perhatian ilmiah global adalah Jinchan — reagen pelindian emas ramah lingkungan yang dikembangkan oleh Guangxi Senhe High Technology Co., Ltd.

Jinchan diklaim menjadi salah satu alternatif sebagai “pengolahan emas ramah lingkungan”. Keunggulan terbesarnya: ia dapat langsung menggantikan natrium sianida tanpa mengubah proses maupun peralatan tambang yang sudah ada.

Beberapa penambang di Gorontalo sudah mulai menggunakan Jinchan sebagai alternatif.

HARUS ADA TINDAKAN NYATA DARI PEMERINTAH

Pemerintah daerah Gorontalo perlu segera mengambil langkah konkret, audit menyeluruh terhadap seluruh aktivitas tambang di Gorontalo, pemetaan risiko pencemaran sumber air baku, serta dorongan nyata bagi penambang rakyat untuk beralih ke metode yang lebih aman melalui pelatihan dan pendampingan teknis.

Dua penangkapan dalam satu bulan adalah peringatan, bukan pencapaian semata. Selama permintaan sianida dari kawasan tambang masih tinggi, selama jalur laut Gorontalo masih bisa ditembus kapal-kapal gelap, dan selama tidak ada solusi teknologi alternatif yang diadopsi secara serius, maka kasus-kasus seperti ini hanya akan terus berulang.

Air baku Gorontalo hari ini mungkin masih aman. Tetapi untuk berapa lama lagi, jika kita tidak bertindak sekarang?

Baca berita kami lainnya di

banner 468x60