READ.ID – Semangat internasionalisasi di Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Gorontalo (UNG) terus menunjukkan tajinya. Tiga mahasiswa FIP UNG sukses menembus kancah pendidikan Eropa melalui program Erasmus Plus, yang membawa mereka berkesempatan melakukan observasi pembelajaran langsung di Gymnázium Jána Hollého, Slovakia.
Ketiga mahasiswa tersebut adalah Rendy Gobel (Program Studi PGSD), serta Khofifah Reihana Arbie dan Nailah Kh. Mokoagow dari Program Studi Psikologi. Pengalaman ini bukan sekadar perjalanan akademik, melainkan sebuah petualangan kultural yang membuka cakrawala baru tentang wajah pendidikan global.
Selama masa observasi, mahasiswa FIP UNG ini menyelami atmosfer kelas yang dinamis. Salah satu poin yang paling berkesan bagi mereka adalah pendekatan pengajaran yang diterapkan di sana.
Guru di Gymnázium Jána Hollého berperan penuh sebagai fasilitator. Dalam kelas Bahasa Inggris, mahasiswa melihat betapa aktifnya siswa dalam berdiskusi. Guru tidak mendominasi, melainkan memancing keberanian berpendapat dan memicu pola pikir kritis para siswa. Pola interaksi yang komunikatif ini menjadi refleksi berharga bagi mahasiswa untuk memahami praktik student-centered learning (pembelajaran yang berpusat pada peserta didik) secara nyata.
Selain mendalami teknik pengajaran, Rendy Gobel dan rekan-rekannya juga mengambil peran sebagai “duta budaya” bagi Indonesia. Di sela-sela kegiatan, mereka berinteraksi hangat dengan siswa setempat.
“Kami berbagi banyak hal. Mulai dari makanan khas Indonesia yang kaya rempah, iklim tropis kita, hingga keseharian anak muda di Indonesia. Respons siswa di sana sangat antusias,” ungkap Rendy.
Dialog lintas budaya ini mengalir secara alami. Keingintahuan siswa Slovakia tentang kehidupan di Indonesia, serta sebaliknya, menjadi jembatan yang mempererat hubungan antargenerasi dan antarnegara.Pengalaman di Slovakia ini diakui menjadi batu loncatan bagi kompetensi global para mahasiswa.
“Kami tidak hanya belajar tentang sistem pendidikan, tetapi juga mengasah soft skills yang krusial, seperti komunikasi lintas budaya, kemampuan adaptasi di lingkungan asing, dan kolaborasi internasional,” terangnya.
Nantinya diharapkan sekembalinya ke tanah air, ketiga mahasiswa ini dapat menginternalisasi “praktik baik” yang mereka temui untuk diadaptasi sesuai dengan konteks pendidikan di Indonesia. Langkah ini merupakan bukti komitmen nyata FIP UNG dalam melahirkan calon pendidik yang tidak hanya kompeten secara teori, tetapi juga adaptif, inovatif, dan berwawasan global.












