READ,- Di tengah hiruk-pikuk pembangunan yang sering kali menempatkan alam sekadar sebagai pelengkap laporan keberlanjutan, langkah yang dilakukan PLN Nusantara Power Unit Pembangkitan Gorontalo bersama Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UMGo) di Pohuwato menghadirkan sesuatu yang lebih penting: kesadaran bahwa konservasi tidak bisa berjalan sendirian.
Burung Julang Sulawesi (Rhyticeros cassidix) mungkin bukan nama yang akrab di ruang-ruang rapat pembangunan. Namun bagi ekosistem hutan Sulawesi, satwa endemik ini adalah penjaga sunyi yang memelihara keseimbangan alam melalui penyebaran biji dan regenerasi hutan. Ketika habitatnya terancam, sesungguhnya yang sedang kehilangan arah bukan hanya satwa liar, tetapi juga manusia yang hidup di sekitarnya.
Karena itu, koordinasi teknis yang digelar di Kantor BAPPEDA Kabupaten Pohuwato bukan sekadar agenda administratif tahunan. Forum tersebut memperlihatkan upaya membangun konservasi sebagai kerja kolektif lintas sektor melibatkan pemerintah daerah, akademisi, perusahaan, hingga masyarakat desa.
Dalam diskusi itu, evaluasi program konservasi tahun 2025 menjadi cermin untuk membaca sejauh mana langkah perlindungan Julang Sulawesi telah berjalan. Pendataan populasi dan habitat, edukasi lingkungan, hingga pelibatan masyarakat menjadi bagian dari fondasi awal yang tengah dibangun. Sementara perencanaan tahun 2026 diarahkan agar konservasi tidak berhenti pada seremoni penanaman atau dokumentasi kegiatan, melainkan terintegrasi dengan pembangunan daerah.
Kepala BAPPEDA Kabupaten Pohuwato, Rustam Melleng, menegaskan bahwa konservasi harus berjalan searah dengan arah pembangunan daerah. Pernyataan itu penting, sebab selama ini banyak program lingkungan berjalan terpisah dari kebijakan pembangunan, sehingga hanya hidup dalam laporan proyek tanpa dampak jangka panjang.
Di sisi akademik, Ketua LPPM UMGo, Indri Afriani Yasin, menekankan pentingnya basis data ilmiah dalam menyusun langkah konservasi berikutnya. Pendekatan ini menjadi penanda bahwa perlindungan lingkungan tidak cukup dibangun di atas niat baik, tetapi harus bertumpu pada riset dan pembacaan lapangan yang terukur.
Sementara itu, PLN Nusantara Power melalui jajaran manajemennya mencoba menempatkan program ini bukan sekadar bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan yang bersifat simbolik. Manager Business Support PLN Nusantara Power UP Gorontalo, Reynold Gobel, menyebut pentingnya kesinambungan program melalui evaluasi dan perencanaan bersama. Bahkan, Manager PLN Nusantara Power UP Gorontalo, Adi Nugroho, mengungkapkan bahwa roadmap konservasi ini disusun hingga tahun 2029.
Pernyataan tersebut memberi pesan bahwa konservasi tidak boleh berhenti pada romantisme menjaga satwa langka. Tahap awal memang berbicara tentang perlindungan habitat dan penguatan dasar konservasi. Namun pada akhirnya, arah besar yang ingin dicapai adalah menghadirkan ekonomi berbasis konservasi—sebuah pendekatan yang mencoba mendamaikan kebutuhan ekologis dengan kesejahteraan masyarakat.
Di titik inilah tantangan sebenarnya dimulai. Sebab menjaga Julang Sulawesi bukan hanya soal melindungi seekor burung endemik, tetapi juga menjaga kesadaran bersama bahwa hutan tidak bisa terus diperlakukan sebagai ruang kosong yang bebas dieksploitasi.
Pohuwato hari ini sedang menguji satu hal penting: apakah pembangunan mampu berjalan tanpa kehilangan suara-suara alam di dalamnya. Dan mungkin, dari hutan-hutan tempat Julang Sulawesi masih terbang, jawaban itu perlahan sedang dicari bersama.












