Abadikan Nama Ayuba Wartabone Jadi Jalan, Adhan Dambea: Ini Penghormatan untuk Deklarator 1947

IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia

READ.ID – Pemerintah Kota resmi mengabadikan nama tokoh proklamasi “Sekali ke Jogja, tetap ke Jogja”, , sebagai nama jalan baru di wilayah pusat kota. Peresmian ini melengkapi deretan penamaan jalan sebelumnya, seperti Jalan B.J. Habibie dan dr. Zainal Umar Sidiki.

Wali Kota Gorontalo, , menegaskan bahwa langkah ini diambil sebagai bentuk komitmen kuat pemerintah daerah dalam merawat sejarah dan menghargai rekam jejak perjuangan para putra terbaik bangsa asal Gorontalo.

“Ini bukan sekadar seremonial penggantian plang atau penunjuk arah. Lebih dari itu, ini merupakan bentuk penghormatan dan penghargaan dari Pemerintah Kota Gorontalo atas jasa, dedikasi, serta perjuangan para tokoh terdahulu yang telah memberikan sumbangsih bagi kemajuan masyarakat Gorontalo,” ujar Adhan Dambea dalam sambutannya di hadapan jajaran Forkopimda dan tokoh masyarakat.

Dalam suasana yang penuh keakraban tersebut, Adhan sempat melontarkan kelakar yang memicu tawa para undangan. Ia menyentil minimnya ruas jalan utama yang tersisa di pusat kota karena sebagian besar sudah menggunakan nama para mantan wali kota pendahulu.

“Tinggal saya dengan Pak Wakil, betul, karena masih hidup, jadi belum,” seloroh Adhan disambut tawa hadirin.

Meski begitu, Adhan mengaku sudah mengantongi rencana besar untuk merombak nama-nama jalan di Kota Gorontalo yang saat ini masih menggunakan nama buah maupun nama daerah lain.

“Jadi mudah-mudahan belum ada di jalan, nama-nama jalan. Cuma niat saya ini Jalan Palma, Jalan Jeruk, Jalan Manado, Jalan Irian, mau ganti semua. Di mana lagi? Jalan Irian di Gorontalo? Ini rencana saya ganti semua, nanti kita akan cari tokoh-tokoh yang insyaallah bisa kita cantumkan nama-nama mereka di jalan-jalan tersebut,” tegas Adhan.

Adhan juga mengaku sempat terkejut dan kagum setelah membaca literatur sejarah mengenai sosok Ayuba Wartabone yang diserahkan langsung ke kediamannya sebelum peresmian tersebut.

Apresiasi mendalam pun datang dari keluarga besar almarhum Ayuba Wartabone. Roland Niode, cucu tertua almarhum, hadir langsung memberikan kesaksian dengan nada bicara yang bergetar menahan haru.

“Alhamdulillah hari ini saya bisa hadir untuk mewakili keluarga opa saya, Ayuba Wartabone. Saya adalah cucu tertua, alhamdulillah masih hadir pada saat peresmian jalan. Untuk itu, terima kasih kami ucapkan kepada Bapak Walikota atas penamaan jalan Ayuba Wartabone,” tutur Roland penuh syukur.

Di mimbar, Roland kemudian mengisahkan kembali fragmen sejarah kepahlawanan sang kakek di Kota Makassar, yang menjadi catatan emas dalam sejarah diplomasi Indonesia.

“Ayuba Wartabone itu mendeklarasikan ‘Sekali ke Jogja, tetap ke Jogja’. Itu 23 Mei 1947. Tahun 1947 itu negara dikacaukan oleh si Van Mook, Belanda. Diadu, diadu domba, dipecah-pecahkan,” kenang Roland.

Roland menambahkan, keberanian kakeknya kala itu sangat luar biasa karena berani menantang kebijakan kolonial secara terbuka di forum resmi.

“Ayuba pada saat itu, di hadapan para kolonial itu, ada satu pertemuan—istilahnya itu Tweede Kamer, DPR-nya pada waktu itu—memberanikan diri untuk mendeklarasikan ‘Sekali ke Jogja, tetap ke Jogja’. Semangat ini menjadi impian juga dari adiknya, Nani Wartabone,” tambahnya.

Baca berita kami lainnya di

banner 468x60