READ.ID – Di tengah riuh rendah jargon “pemberdayaan masyarakat” yang kerap berakhir sebagai dokumentasi laporan semata, geliat yang terjadi di Desa Ayula Selatan, Bone Bolango, setidaknya menawarkan satu hal yang patut dicatat: upaya serius untuk tidak sekadar datang, foto, lalu pulang.
Program KKN Tematik Universitas Negeri Gorontalo (UNG) kali ini mengusung tema yang terdengar familiar, bahkan mungkin terlalu sering diulang: penguatan UMKM desa. Namun, di balik repetisi tema tersebut, ada pendekatan yang coba dihidupkan yakni sinergi Pentahelix—sebuah konsep yang dalam praktiknya sering kali lebih mudah diucapkan daripada dijalankan.
Acara pembukaan yang dihadiri oleh Kepala Dinas PMD Kabupaten Bone Bolango, Muhammad Rizki Pateda, menjadi penanda bahwa program ini tidak ingin berdiri sendiri. Negara hadir, atau setidaknya mencoba terlihat hadir. Dalam banyak kasus, kehadiran pemerintah berhenti pada seremoni pembukaan. Pertanyaannya: apakah kali ini berbeda?
Kepala Desa Ayula Selatan, Henny Monoarfa, tampak memahami bahwa masa depan desa tidak lagi bisa bertumpu pada pola lama. Dukungan terhadap UMKM bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Namun dukungan, tanpa arah dan konsistensi, hanya akan menjadi semangat sesaat.
Di sinilah peran mahasiswa KKN diuji. Mereka tidak hanya membawa proposal dan program kerja, tetapi juga ekspektasi. Menghadirkan pelaku usaha seperti Risma Hasan, owner Bilal Mekar Snack, adalah langkah yang cukup cerdas karena inspirasi paling efektif sering kali datang dari mereka yang pernah jatuh, bangkit, dan bertahan di medan yang sama.
Masalah klasik UMKM desa bukan semata pada produksi, tetapi pada standar. Rasa mungkin sudah ada, bahan baku melimpah, tetapi kemasan dan positioning pasar sering kali tertinggal. Produk desa kerap kalah bukan karena kualitas, tetapi karena persepsi. Di sinilah pelatihan pengolahan dan pengemasan menjadi relevan—bukan sebagai tambahan, tetapi sebagai kebutuhan mendesak.
Namun, satu hal yang perlu diwaspadai: program seperti ini sering terjebak pada euforia pelatihan. Hari ini pelatihan, besok kembali ke kebiasaan lama. Tanpa pendampingan berkelanjutan, transformasi hanya akan menjadi ilusi sesaat.
Tim Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) UNG yang terlibat tentu memahami tantangan ini. Mereka bukan hanya pengawas program, tetapi penentu arah keberlanjutan. Jika KKN hanya berhenti pada output kegiatan, maka yang tersisa hanyalah laporan. Tetapi jika mampu menciptakan sistem yang hidup setelah mahasiswa kembali, maka di situlah nilai sebenarnya.
Pentahelix, dalam konteks ini, seharusnya tidak berhenti pada komposisi aktor. Ia harus menjadi mekanisme kerja. Pemerintah tidak cukup membuka acara, akademisi tidak cukup meneliti, pelaku usaha tidak cukup berbagi cerita, masyarakat tidak cukup menjadi peserta, dan media tidak cukup meliput.
Ambisi untuk membawa produk pangan lokal Desa Ayula Selatan “naik kelas” bukanlah mimpi yang mustahil. Tetapi ia juga bukan sesuatu yang bisa dicapai dengan satu kali pelatihan dan beberapa lembar sertifikat.
Naik kelas berarti masuk pasar yang lebih keras. Berarti bersaing dengan produk yang sudah lebih dulu mapan. Berarti memahami bahwa kemasan bukan sekadar bungkus, tetapi identitas. Bahwa kualitas bukan sekadar rasa, tetapi konsistensi.
Dan yang paling penting, naik kelas berarti berubah secara mental, sistem, dan cara pandang.
Pertanyaannya sederhana: apakah program ini akan menjadi titik awal perubahan, atau hanya satu lagi catatan kegiatan di arsip desa?
Waktu yang akan menjawab. Tetapi setidaknya, untuk saat ini, Desa Ayula Selatan sedang mencoba.












