Satu Meja, Satu Kopi: Forkopimda Gorontalo Lebur Bersama Warga di Warkop Amal

Warkop Amal Gorontalo
IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia

READ.ID — Bukan di ruang rapat ber-AC dengan meja panjang dan mikrofon formal. Bukan pula di aula pemerintahan yang dijaga ketat protokoler. Pertemuan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Gorontalo pada Selasa sore (14/7/2026) justru digelar di sebuah warung kopi sederhana milik masyarakat, , di jantung Kota Gorontalo.

Di sana, Dr. H. Gusnar Ismail, M.M. duduk bersebelahan dengan Irjen Pol. Drs. Widodo, S.H., M.H. dan Kepala Kejaksaan Tinggi Gorontalo Sumurung Pandapotan Simaremare. Di sekitar mereka, Ketua DPRD Provinsi Gorontalo H. Idrus M.T. Mopili, Danrem 133/Nani Wartabone Brigjen TNI Hardo Toga Parlindungan Sihotang, Ketua Pengadilan Tinggi Yapi, Danlanal Letkol Marinir Andi Arif Mangkubumi, hingga Dansatradar 224/Kwandang Letkol Lek Edith Nurhidayah hadir lengkap,  semua duduk di kursi yang sama, memesan kopi yang sama, di antara pengunjung biasa yang juga sedang menikmati sore mereka.

Pemandangan itu bukan kebetulan. Warkop Amal memang sengaja dipilih.

Tempat di Mana Semua Orang Setara

Bagi warga Gorontalo, Warkop Amal bukan sekadar tempat minum kopi. Warung ini sudah lama dikenal sebagai ruang perjumpaan lintas kalangan. Politisi, aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM), aparat penegak hukum, mahasiswa, pedagang, tukang ojek, hingga pekerja harian lepas,  semuanya pernah dan biasa duduk di tempat yang sama.

Di Warkop Amal, tidak ada meja VIP. Tidak ada kursi khusus untuk pejabat. Siapa pun yang masuk dan duduk, statusnya sama, pengunjung warung kopi. Filosofi inilah yang menjadikan tempat ini begitu khas. Seorang jenderal bisa duduk bersebelahan dengan seorang mahasiswa semester awal tanpa canggung, karena memang begitulah budaya yang hidup di warung ini.

Ramli Anwar  atau yang lebih akrab disapa Haji Ramli  pemilik Warkop Amal, membenarkan hal tersebut. Baginya, prinsip itu bukan sekadar slogan, melainkan aturan main yang sudah mengakar sejak warung ini berdiri.

“Siapa pun terbuka datang dan ngopi di sini tanpa memandang status, pangkat, dan jabatan. Di sini semua saling menghargai, bisa bercanda bersama dengan batasan-batasan tertentu,” ujar Haji Ramli.

Prinsip itulah yang membuat Warkop Amal bertahan sebagai ruang netral di tengah kota. Ketika tempat-tempat lain secara tidak langsung tersegmentasi oleh kelas sosial, warung kopi ini justru menjadi titik temu yang melebur sekat-sekat itu. Dan pertemuan Forkopimda sore itu menjadi bukti paling nyata bahwa filosofi Haji Ramli benar-benar hidup,  para pejabat tertinggi provinsi datang bukan untuk mengambil alih ruang, melainkan untuk ikut duduk setara di dalamnya.

Ketua DPRD Provinsi Gorontalo dalam sambutan pembukaannya mengakui bahwa konsep pertemuan kali ini memang sengaja dirancang berbeda. Jika biasanya pembahasan daerah dilaksanakan di ruang formal yang kaku, kali ini Forkopimda memilih hadir langsung di tengah masyarakat. Tujuannya jelas, agar warga yang kebetulan hadir bisa melihat sendiri, bahkan berinteraksi langsung dengan para pemimpin daerah mereka.

“Yang penting bagi kami ini kami sudah bertemu di sini. Kalau tidak salah saya, pertemuan ini sudah tiga empat kali tunda. Saya punya waktu tiba-tiba teman-teman Forkopimda lain tidak punya waktu, beliau-beliau punya waktu saya lagi tidak bisa hadir. Alhamdulillah semua bisa hadir pada kesempatan ini,” jelas Gubernur Gusnar.

Ngopi, Bukan Rapat

Gubernur Gusnar tidak memungkiri bahwa pertemuan sore itu memang tidak membahas agenda formal. Tidak ada notulen. Tidak ada presentasi PowerPoint. Yang ada adalah obrolan yang mengalir bebas di antara aroma kopi dan hiruk-pikuk pengunjung.

Bahkan, saat Gubernur tiba di lokasi, topik yang sedang ramai dibahas para pejabat ternyata adalah sepak bola,  lengkap dengan debat ringan soal tim favorit di antara mereka.

Namun di balik suasana cair itu, ada pesan penting yang ingin disampaikan kepada masyarakat. Kehadiran seluruh unsur Forkopimda secara lengkap di satu tempat publik membuktikan bahwa kepemimpinan di Gorontalo berjalan solid. Gubernur menegaskan bahwa kebersamaan ini menjadi modal utama untuk mengawal program strategis Pemerintah Pusat di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, sekaligus menyukseskan berbagai program kerja di tingkat daerah.

Kapolda Gorontalo turut mempertegas bahwa keharmonisan jajaran Kepolisian Daerah Gorontalo dengan seluruh unsur vertikal maupun pemerintah daerah tetap terjaga baik. Sinergitas itu, kata Kapolda, menjadi tameng utama dalam menyaring berbagai isu yang berkembang demi menjaga ketenteraman masyarakat.

Dialog Terbuka: Aspirasi dari Kursi Warkop

Yang membuat pertemuan ini semakin bermakna adalah ketika Forkopimda membuka ruang dialog langsung kepada siapa saja yang hadir di Warkop Amal sore itu. Empat perwakilan warga tampil menyampaikan aspirasi mereka, dari unsur pemuda Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI), kelompok masyarakat pekerja, serta seorang mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG).

Masalah kepemudaan, ketenagakerjaan, hingga urusan kampus menjadi topik yang diangkat. Forkopimda langsung merespons secara terbuka sebagai bahan evaluasi kebijakan ke depan.

Kabid Humas Polda Gorontalo Kombes Pol. Marupa Sagala menegaskan bahwa kehadiran kepolisian bersama seluruh unsur Forkopimda di warung kopi ini merupakan bentuk nyata pelayanan publik yang inklusif. Forum dialog terbuka di tengah masyarakat seperti ini, menurutnya, sangat efektif untuk menyerap informasi dan keluhan langsung dari akar rumput guna mengantisipasi potensi gangguan keamanan dan ketertiban sejak dini.

Beberapa pejabat baru turut diperkenalkan kepada publik dalam kesempatan tersebut, termasuk Danlanal Gorontalo dan Direktur Intelijen (Dirintel) Polda Gorontalo yang baru menjabat.

Secangkir Kopi untuk Pesantren

Ada satu hal tentang Warkop Amal yang mungkin tidak banyak diketahui orang luar, namun justru menjadi ruh dari warung kopi ini, seratus persen keuntungan usaha Warkop Amal disumbangkan untuk Yayasan Pondok Pesantren Al Islam Al Anwar.

Artinya, setiap cangkir kopi yang dipesan,  baik oleh seorang gubernur, seorang kapolda, maupun seorang mahasiswa, tidak hanya membeli minuman. Setiap rupiah yang dibelanjakan di Warkop Amal mengalir menjadi dana pendidikan bagi santri-santri di pondok pesantren tersebut.

Filosofi ini selaras dengan semangat kesetaraan yang telah lama melekat pada Warkop Amal. Warung ini bukan sekadar tempat usaha. Ia adalah ruang sosial yang hidup, tempat di mana perbedaan jabatan dan status lebur dalam secangkir kopi, dan di mana keuntungan dari kebersamaan itu dikembalikan untuk kemaslahatan umat.

Maka tidak berlebihan jika dikatakan,  pilihan untuk berembuk di Warkop Amal bukan sekadar gimmick. Itu adalah pengakuan bahwa ruang-ruang kerakyatan seperti inilah yang sesungguhnya menjadi cermin dari kepemimpinan yang membumi. (*)

Baca berita kami lainnya di

banner 468x60