READ.ID — Penggunaan material kayu dalam pekerjaan revitalisasi SDN 16 Kwandang menjadi perhatian setelah ditemukan adanya kayu yang diganti pada bagian atap sekolah.
Ketua Komite SDN 16 Kwandang, Syamsudin Amir, membenarkan adanya penggantian sejumlah kayu dalam pekerjaan revitalisasi tersebut. Ia mengatakan, kayu yang dinilai sudah lapuk atau tidak layak digunakan diganti, sementara material lama yang masih dalam kondisi baik tetap dapat dimanfaatkan.
“Memang saya lihat kayu-kayu itu yang digunakan adalah kayu yang sudah lama. Yang biasanya ada yang sudah lapuk itu, itu yang diganti,” kata Syamsudin saat dikonfirmasi awak media, Kamis 10/09/2026.
Syamsudin bahkan kembali menegaskan bahwa penggantian kayu memang terjadi di lokasi pekerjaan.
“Ada kayu yang diganti di situ,” ujarnya.
Selain kayu lama yang diganti, Syamsudin mengaku melihat material yang tampak baru di lokasi. Namun, ia belum dapat memastikan apakah material tersebut merupakan kayu baru yang dibeli untuk kebutuhan revitalisasi.
“Kalau saya lihat, ada juga yang baru di situ,” katanya.
Menurut Syamsudin, kondisi material menjadi pertimbangan dalam pekerjaan. Kayu lama yang masih dinilai baik, menurutnya, tidak serta-merta harus diganti.
“Jangan sampai kayu yang sudah lama, tapi dia masih bagus,” ujarnya.
Persoalan muncul ketika Syamsudin ditanya mengenai dokumen Rencana Anggaran Biaya (RAB). Sebelumnya, terdapat informasi bahwa penggunaan kayu dalam RAB pekerjaan tersebut tercatat nol.
Mengenai hal itu, Syamsudin mengaku tidak mengetahui secara pasti. Ia mengatakan, meskipun komite dilibatkan dalam pembahasan pekerjaan, dirinya tidak memahami secara rinci pencantuman material kayu dalam RAB.
“Kalau untuk mereka mengatakan itu nol, itu yang saya tidak tahu,” katanya.
“Sebenarnya saya dilibatkan. Tapi untuk misalnya dalam penyusunan RAB itu, kalau misalnya itu dikatakan nol, itu yang saya tidak terlalu tahu,” lanjutnya.
Syamsudin menyebut dokumen RAB perlu dilihat kembali untuk memastikan bagaimana penggunaan maupun penggantian material kayu dituangkan dalam perencanaan pekerjaan.
Di sisi lain, Syamsudin menjelaskan bahwa keterlibatan komite dalam revitalisasi lebih pada fungsi pengawasan. Komite tidak masuk dalam kepanitiaan, namun tetap memantau perkembangan pekerjaan di lapangan.
“Kalau komite itu tidak masuk dalam kepanitiaan, tapi masuk dalam pengawasan,” katanya.
Ia mengaku rutin memantau pekerjaan, baik dari sekitar rumahnya yang berada dekat dengan sekolah maupun dengan datang langsung ke lokasi. Dari pengamatannya, pekerjaan revitalisasi sejauh ini berjalan sesuai dengan kondisi pekerjaan di lapangan.
“Kalau saya lihat memang sudah sesuai pekerjaan,” ujarnya.
Syamsudin juga mengatakan komite dilibatkan dalam sejumlah rapat terkait pelaksanaan revitalisasi. Ia menilai pengawasan diperlukan agar pekerjaan tersebut nantinya memberikan manfaat bagi siswa dan lingkungan sekolah.
“Ini dijaga baik-baik karena pemanfaatan ini adalah kita, siswa kita yang ada di sini,” ujarnya.
Hingga kini, keterangan Ketua Komite memastikan adanya penggantian material kayu di lapangan. Namun, belum ada kepastian dari pihak komite mengenai apakah kayu pengganti tersebut tercantum dalam RAB, termasuk apakah material yang terlihat baru merupakan kayu yang memang dianggarkan dalam pekerjaan revitalisasi.











